|     N e w s     |     The Batik     |     F A Q     |
Teras Toko online
  Cari Batik      
  Masukkan Kode Batik :
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Testimoni
9 comments terbaru


Nama :
Email :
Comments :
5 digit nomor di atas :



pewarna alam batik Arsip Batik





















































Pewarna Alam Batik


Zat warna tekstil dapat digolongkan menjadi 2 menurut sumber asalnya, yaitu :
Pertama, Zat Pewarna Alam (ZPA) yaitu zat warna yang berasal dari bahan-bahan alam seperti dari hasil ekstrak tumbuhan atau hewan.
Kedua, Zat Pewarna Sintesis (ZPS) yaitu Zat warna buatan atau sintesis yang dibuat melalui proses reaksi kimia dengan bahan dasar ter arang batu bara atau minyak bumi yang merupakan hasil senyawa turunan hidrokarbon aromatik seperti benzena, naftalena dan antrasena.

Pada jaman dahulu proses pewarnaan tekstil menggunakan zat warna alam. Namun, seiring peningkatan kebutuhan dan kemajuan teknologi dengan ditemukannya zat warna sintetis untuk tekstil maka semakin terkikislah penggunaan zat warna alam. Zat Pewarna Alam semakin sulit ditemukan di jaman seperti sekarang ini. Hutan-hutan sudah mulai ditebangi, sehingga sumber zat pewarna alam yang berasal dari tumbuhan dan hewan sudah mulai langka.

Berbeda dengan zat pewarna alam, zat pewarna sintetis akan lebih mudah diperoleh di pasaran, ketersediaan warna terjamin, jenis warna bermacam macam, dan lebih praktis dalam penggunaannya

Rancangan busana maupun kain batik yang menggunakan zat warna alam memiliki nilai jual atau nilai ekonomi yang tinggi karena memiliki nilai seni dan warna khas, ramah lingkungan sehingga berkesan etnik dan eksklusif.

Zat pewarna alam untuk bahan tekstil pada umumnya diperoleh dari hasil ekstrak berbagai bagian tumbuhan seperti akar, kayu, daun, biji ataupun bunga. Pengrajin-pengrajin batik telah banyak mengenal tumbuhan-tumbuhan yang dapat mewarnai bahan tekstil beberapa diantaranya adalah : daun pohon nila (indofera), kulit pohon soga tingi (Ceriops candolleana arn), kayu tegeran (Cudraina javanensis), kunyit (Curcuma), teh (Tea), akar mengkudu (Morinda citrifelia), kulit soga jambal (Pelthophorum ferruginum), kesumba (Bixa orelana), daun jambu biji (Psidium guajava). (Sewan Susanto,1973).

Mori yang diwarnai dengan zat warna alam adalah yang berasal dari serat alam contohnya sutera, wol dan kapas (katun). Sedangkan mori dari serat sintetis seperti polyester , nilon dan lainnya tidak memiliki afinitas (daya serap) terhadap zat warna alam sehingga zat warna alam tidak bisa menempel dan meresap di mori sintetis tersebut. Bahan dari sutera pada umumnya memiliki afinitas paling bagus terhadap zat warna alam dibandingkan dengan bahan dari kapas.

Salah satu kendala pewarnaan mori menggunakan zat warna alam adalah variasi warnanya sangat terbatas dan ketersediaan bahannya yang tidak siap pakai sehingga diperlukan proses-proses khusus untuk dapat dijadikan larutan pewarna mori. Oleh karena itu zat warna alam dianggap kurang praktis penggunaannya. Namun dibalik kekurangannya tersebut zat warna alam memiliki potensi pasar yang tinggi sebagai komoditas unggulan produk Indonesia memasuki pasar global dengan daya tarik pada karakteristik yang unik, etnik dan eksklusif.

Untuk itu, sebagai upaya mengangkat kembali penggunaan zat warna alam untuk tekstil maka perlu dilakukan pengembangan zat warna alam dengan melakukan eksplorasi sumber- sumber zat warna alam dari potensi sumber daya alam Indonesia yang melimpah. Eksplorasi ini dimaksudkan untuk mengetahui secara kualitatif warna yang dihasilkan oleh berbagai tanaman di sekitar kita untuk pencelupan tekstil. Dengan demikian hasilnya dapat semakin memperkaya jenis –jenis tanaman sumber pewarna alam sehingga ketersediaan zat warna alam selalu terjaga dan variasi warna yang dihasilkan semakin beragam. Eksplorasi zat warna alam ini bisa diawali dari memilih berbagai jenis tanaman yang ada di sekitar kita baik dari bagian daun, bunga, batang, kulit ataupun akar . Sebagai indikasi awal, tanaman yang kita pilih sebagai bahan pembuat zat pewarna alam adalah bagian tanaman–tanaman yang berwarna atau jika bagian tanaman itu digoreskan ke permukaan putih meninggalkan bekas/goresan berwarna. Pembuatan zat warna alam untuk pewarnaan bahan mori dapat dilakukan menggunakan teknologi dan peralatan sederhana.

Untuk itu pigmen – pigmen alam tersebut perlu dieksplorasi dari jaringan atau organ tumbuhan dan dijadikan larutan zat warna alam untuk pencelupan bahan tekstil. Proses eksplorasi dilakukan dengan teknik ekstraksi dengan pelarut air.

Proses pembuatan larutan zat warna alam adalah proses untuk mengambil pigmen – pigmen penimbul warna yang berada di dalam tumbuhan baik terdapat pada daun, batang, buah, bunga, biji ataupun akar. Proses eksplorasi pengambilan pigmen zat warna alam disebut proses ekstraksi. Proses ektraksi ini dilakukan dengan merebus bahan dengan pelarut air. Bagian tumbuhan yang di ekstrak adalah bagian yang diindikasikan paling kuat/banyak memiliki pigmen warna misalnya bagian daun, batang, akar, kulit buah, biji ataupun buahnya. Untuk proses ekplorasi ini dibutuhkan bahan – sebagai berikut:

  1. Kain katun (birkolin) dan sutera,
  2. Ekstrak adalah bahan yang diambil dari bagian tanaman di sekitar kita yang ingin kita jadikan sumber pewarna alam seperti : daun pepaya, bunga sepatu, daun alpokat, kulit buah manggis, daun jati, kayu secang, biji makutodewo, daun ketela pohon, daun jambu biji ataupun jenis tanaman lainnya yang ingin kita eksplorasi
  3. Bahan kimia yang digunakan adalah tunjung (FeSO4) , tawas, natrium karbonat/soda abu (Na2CO3) , kapur tohor (CaCO3), bahan ini dapat di dapatkan di toko-toko bahan kimia. Peralatan yang digunakan adalah timbangan, ember, panci, kompor, thermometer , pisau dan gunting


Dalam melakukan proses ekstraksi/pembuatan larutan zat warna alam perlu disesuaikan dengan berat bahan yang hendak diproses sehingga jumlah larutan zat warna alam yang dihasilkan dapat mencukupi untuk mencelup bahan tekstil. Banyaknya larutan zat warna alam yang diperlukan tergantung pada jumlah bahan tekstil yang akan diproses. Perbandingan larutan zat warna dengan bahan tekstil yang biasa digunakan adalah 1:30. Misalnya berat bahan mori yang diproses 100 gram maka kebutuhan larutan zat warna alam adalah 3 liter. Berikut ini adalah langkah-langkah proses ekstraksi untuk mengeksplorasi zat pewarna alam dalam skala laboratorium:

  1. Potong menjadi ukuran kecil – kecil bagian tanaman yang diinginkan misalnya: daun, batang , kulit atau buah. Bahan dapat dikeringkan dulu maupun langsung diekstrak. Ambil potongan tersebut seberat 500 gr.
  2. Masukkan potongan-potongan tersebut ke dalam panci. Tambahkan air dengan perbandingan 1:10. Contohnya jika berat bahan yang diekstrak 500gr maka airnya 5 liter.
  3. Rebus bahan hingga volume air menjadi setengahnya (2,5liter). Jika menghendaki larutan zat warna jadi lebih kental volume sisa perebusan bisa diperkecil misalnya menjadi sepertiganya. Sebagai indikasi bahwa pigmen warna yang ada dalam tumbuhan telah keluar ditunjukkan dengan air setelah perebusan menjadi berwarna. Jika larutan tetap bening berarti tanaman tersebut hampir dipastikan tidak mengandung pigmen warna.
  4. Saring dengan kasa penyaring larutan hasil proses ekstraksi tersebut untuk memisahkan dengan sisa bahan yang diesktrak (residu). Larutan ekstrak hasil penyaringan ini disebut larutan zat warna alam. Setelah dingin larutan siap digunakan.


sumber:batikyogya.wordpress.com



35 comments
nindy
nice infoo gan?
ada dapus gag?
Admin
@nindy:
pertamax gan..
dapus ada.
aries eko cahyono
saya ingin kursus batik alam di mana alamatnya
Admin
@aries eko cahyono:
silakan kunjungi Museum Batik di Pekalongan.
di sana ada workshop tentang batik yang dibuka setiap hari.
danti
trus pengunci warna nya pake ap?supaya warna alami tsb tdk mudah luntur,,makasih :)
Admin
@danti:
bisa menggunakan soda
nur
b'gaimana cara untuk menghilangkan lilin pada kain??? terimakasih
Admin
@nur:
bisa dengan cara di setrika
santo
daun indigofera itu yg gmn?aku orang pekalongan tp ko ga tau indigofera,& caranya bagaimana agar daun indigofera bisa berwarna biru
Admin
@santo:
banyak caranya pak dan banyak juga artikelnya di google. tinggal googling aja. :)
Admin
Cara Membuat Pasta Indigo :
1. 1 kg daun indigo segar (dengan rantingnya) direndam dalam 5 liter air, usahakan daun berada dibawah permukaan air
2. Setelah 10 jam, mulai terjadi proses fermentasi yang ditandai dengan adanya gelembung gas dan warna biru (larutan berwarna hijau).
3. Proses fermentasi selesai apabila gelembung gas tidak timbul lagi, dan air berwarna kuning kehijauan. Biasanya perlu waktu sekitar 24-48 jam.
4. Masukkan 20-30 gram bubuk kapur cair.
5. Rebus larutan selama jam-1 jam.
6. Selama pengeburan, terjadi pembuihan hebat berwarna biru. Pegeburan dihentikan setelah tidak terjadi buih permanen dan berwarna biru pudar, yang merupakan indikasi bahwa indigo sudah mulai mengendap.
7. Diamkan cairan selama 24 jam (Proses Pengendapan).
8. Pisahkan air dari endapannya yang sudah berbentuk pasta (saring dengan kain halus).
9. Simpan pasta indigo pada tempat kering dan sejuk.
10. Usahakan jangan terpapar sinar matahari.

Pembuatan Zat Warna Indigo
1. Larutkan 1 kg pasta indigo dalam 10 liter air.
2. Saring dan buang residunya.
3. Tambahkan kg gula jawa cair dan gelas aqua/satu genggam tunjung dan dicairkan.
4. Tambahkan 1 liter air kapur baru.
5. Aduk secukupnya sampai tercampur semua.
6. Diamkan dan tutup selama 24 jam.
7. Lihat bila cairan berwarna kuning kehijauan, berarti ZWA tersebut siap untuk digunakan.

PROSES MORDANTING
Beberapa zat warna akan cepat pudar warnanya tanpa proses mordanting. Resep mordanting untuk 500 gram kain katun.
1. Kain direndam dalam larutan 2 gram/liter air dan TRO selama semalam.
2. Cuci bersih.
3. Rebus dalam air yang mengandung 100 gram tawas dalam soda abu (30 gram) selama 1 jam.
4. Keringkan dan siap di warna alam.

CARA PEWARNAAN DENGAN ZWA INDIGO
1. Kain yang sudah dibasahi dicelupkan pada zat pewarna bersuhu dingin,
2. Kemudian dijemur di tempat yang teduh dan dalam keadaaan setengah kering, celup berulang-ulang hingga sesuai ketuaan warna yang dikehendaki (minimal 5 x).
3. Setelah kering , kain tersebut di fiksasi dengan (larutan air cuka + jeruk nipis).
4. Cuci bersih dan jemur di tempat sejuk dan tidak terpapar sinar matahari.

PEMBUATAN LARUTAN FIKSASI
Pada akhir proses pewarnaan alam, ikatan antara zat warna alam yang sudah terikat oleh serat masih perlu diperkuat lagi dengan garam logam seperti tawas (K (SO4)2), kapur (Ca (OH)2) dan tunjung (FeSO4). Selain memperkuat ikatan, garam logam juga berfungsi untuk mengubah arah warna ZWA, sesuai jenis garam logam yang mengikatnya. Pada kebanyakan warna alam, tawas akan memberikan arah warna yang sesuai dengan warna aslinya, sedangkan tunjung akan memberikan arah warna lebih gelap/tua. Pada pewarnaan dengan indigo, fiksasi yang digunakan ialah dengan larutan air cuka 0,5 ml/l dengan ditambahkan 1 buah jeruk nipis/ 20 l.
Eko BS
Di tempat tinggal kami banyak pohon Indigoferra Tinctoria dan itu sangat mudah di budidayakan.
Salam,
Eko BS/08562664389 ( Pin.3007F6E9 )
Shinta B.N
ada yang tau pewarna alam tingi, tegeran, jambal, jalawe dan secang? bingung :(
imam
apakah anda membutuhkan pewarna alam pasta indigo, andaikan masih menggunakan kami dari magelang mau manawarkan, trimakasih
riyadi gemawang
jika anda membutuhkan pewarna alam indigo kami menawarkan harga standart murah karena kami produksi sendiri
tengku gumawang
daunnya/INDIGO cristal siap saji buat warna alam BATIK
segera Hub di : gedange
sandy
untuk proses pembuatan warna alami, bahan-bahan seperti tunjung,tawas,natrium karbonat, kapur tohor, fungsinya untuk apa? apa bahan2 itu termasuk bahan alami? terimakasih untuk infonya, sangat bermanfaat.
Herdiana
kalo pada daun ketela warnanya jadi apa?
aku udah bikin motif tinggal pwarnaan aja
cendani
ty
nuri
tau gak contoh pewarna alam untuk batik ??
Mustika Sari Galuh Anggraeni
mantab infonya. Kebetulan ini membuat laporan warna alam, request resep tingi, jambal, jalawe,tegeran duwet, secang, makasih min. Salam dari kita anak-anak tekstil SMK Rota!!
fitri nur rohmah nak rota
keren infonya dapat membantu saya dalam membuat laporan eksperimen warna alam.
terimakasih atas infonya tapi tolong dilengkapi dengan resep warna alamnya terutama resep daun mangga, daun jambu biji, jambal. tegeran, dan jalawe
salam dari anak-anak tekstil SMK N 1 ROTA BAYAT.
wahyu
selain warna dari jambal jolawe tegeran indigo tinggi...adakah warna alam yang lebih unik?
tlng dibantu ya..kalo kulit bawang merah apakah bisa digunakan??
agus
saya membuat batik warna alam,tetapi saya sama sekali tidak menggunakan kimia sedikitpun, hasilnya sangat luar biasa, yang namanya batik alam itu gak ada campuran kimianya.semua dari tumbuh - tumbuhan.
Ratna dewi
infony sngat membantu saya dalam membuat laporan warna alam.
terimakasih atas infonya. untuk pewarnaaan alam dari daun anggur resepya bagaimana? jika fiksasinya menggunakan cuka dan gula batu bagai mana ya resepnya warna alamnya ,untuk daun anggurnya di keringkan dlu ato bru di petik. trimakasih
wahid khaqiqi
mau tanya warna hitam pekat dan kuning dan hijau itu bahan alaminya dr apa..?
rina
wah makasih infonya jadi tambah pengetahuan nich.kemarin ak habis diklat batik
Hommy
apakah kain yg menggunakan ZWA bisa luntur tiap kali dicuci?
sugeng
ada gak ya yang jual zwa indigofera siap pakai ? ( tinggal menorehkan pada kain )
nisma
infonya sangat membantu,makasi
kalo mau survei buat penelitian,museum batik bisa di kunjungi tiap hari apa nggak ya ?
muha
apakah tanaman tapak kuda dapat digunakan sbg pewarna alami?? mohon penjelasanannya gan aganwati
aga
bagaimana agar pewarna alami bisa tetap awet warnanya???
aga
mau beli pewarna alami dimana??
kasih cc atau websitenya atau alamatnya??thanks
alpiany
Pewarna yang berasal Dari he wan, hewannya apa ajaa, Dan apa warna yang dihasilkan olehh he wan terse but?
roes
dear @admin
hasil dari fiksasi pake cuka tu gmn, min,?
ada hasil (foto) perbandingan dengan fiksasi lain nggak?
thx
Nama
Email
Comment
Kode captcha
 
 
 
Supported by
 

Copy Right : BATIK PARASANTIQUE PEKALONGAN © 2013
Jl. Molek Baru no. 9
Villa Binagriya Pekalongan
Phone: 0285-410345
HP: 02857905080
PIN: 286B7E9A
email: parasantique@gmail.com

rss feed rss feed rss feed

Ping your blog, website, or RSS feed for Free

My Zimbio

Check PageRank


2014-09-21 00:59:24 freewebsubmission Markup Validator Parasantique Wikimapia Direktori Web Online - Kirim Submit Url Parasantique on IndonesiaYP